Akan seperti apa nantinya jika kita mungkin Bersama?
Akan seperti apa nantinya jika kita mungkin Bersama?
Kisah
yang tak jelas awalnya namun tergambar bagaimana berakhirnya.
Mungkin
kamu tidak pernah sadar, tapi aku mencintaimu di bawah hujan kala itu.
Menggigil
karna angin berhembus bersama dengan tetes yang menghujam, tapi hatiku menghangat
karna bersamamu. Betapa bodohnya dua insan yang mencinta dibawah hujan. Berlagak
kuat padahal kedinginan. Biarkan mereka yang berada di dalam mobil sedan tua
itu tertawa, mereka tidak tau saja rasanya bertukar rasa tanpa bicara, sambil kedinginan
pula. Persetan dengan mereka yang melonglong tertawa di dalam angkutan umum
berwarna merah penuh bau itu, mereka tidak tau rasanya menjadi kita. “Memang bagaimana rasanya?”. “Dingin tapi hangat dan penuh dengan tanda
tanya.” “apa yang riuh di dalam kepala itu?” “ya menurutmu apa
lagi kalau bukan menebak isi kepalamu dan yang akan terjadi selanjutnya.” “kenapa
harus menebak isi kepala yang ada di depan mata? Tanyakan saja.” “aku
ini seorang perempuan, terlalu egois
untuk bertanya kepada lelaki yang dicintanya. Lagi pula, aku terlalu sibuk
bersembunyi dibalik tubuh lelaki di depanku yang ternyata tidak cukup tinggi
untuk melindungi mataku dari perih akibat derasnya hujan kala itu.” Sial,
mengingat mataku yang perih, harusnya aku iyakan saja ajakanmu untuk berteduh
sebentar. Tapi aku tidak punya cukup nyali untuk berteduh di teras warung yang
tutup hanya berdua dengan kamu. “apa yang kamu takutkan? Kamu pikir aku akan
berbuat apa?” “jangan salah paham
dulu.” Aku terlalu takut dengan kata-kataku. Aku tidak pandai mengutarakan
maksud, dan aku tidak pernah siap dengan pertanyaan laki-laki yang ambigu. Tapi
waktu itu aku melihat kebun bunga, banyak sekali bunga yang indah, aku mengira
mereka mawar karna aku belum tau nama bunga yang lain lagi. “kamu ingin
kesana?” “tidak denganmu.” Aku tidak ingin lagi mencampur aduk
kenangan dari dua orang yang berbeda. Tapi kenapa hari itu hujan sepanjang
jalan pulang? “memangnya kenapa?” “menurutku itu aneh.” Setiap kenangan
bersamamu adalah hujan, panas dan malam, aku tidak pernah melihat senja padamu.
“kamu melihatnya pada orang lain?”
“tidak, dia melihatnya sendiri, aku juga sendiri.” Tapi kami pernah
menginginkan mug dengan gambar lucu dengan warna pastel yang indah. “kamu
tidak pernah bilang menginginkan hal seperti itu dulu?” “memangnya dulu kita tau apa? Kita mengurung
diri dan terkurung di tempat yang sama.” Waktu itu apa yang paling bisa aku
inginkan selain tulisan tebal berjejak pada halaman baru di pagi Rabu. Dan kalimat
tidak jelas di halaman paling belakang buku akidah akhlak yang ditulis dengan
tekanan penuh oleh tangan pelakunya. “apa hanya itu yang kita punya?” “sejauh
ini, hanya itu yang berputar di kepalaku?” tapi bukankah itu sudah cukup
untuk menebak seperti apa kita jika nanti bersama?

Komentar
Posting Komentar