Vietnam dan Menemukan Cinta
VIETNAM dan menemukan cinta.
Jika nantinya memang bisa terwujud, aku ingin kita bertemu dan jatuh cinta diantara lagu dan harmoni indah, diantara ikat bunga, dari gerakan tari sederhana yang kaku, di tengah banyak kepala yang meneriakkan takjub akan cinta, di Vietnam. Aku ingin pertemuan kita terekam oleh kamera handycam yang kupunya. Aku ingin kita menari dengan terpaksa bersama rasa canggung akan wujud orang asing yang baru pertama berjumpa. Aku ingin dengan sengaja menginjak kakimu saat musik itu tiba-tiba di mulai. Aku ingin kita merasa sangat malu setelahnya. Aku ingin kau memintaku menyimpan baik-baik video handycam usang itu, tapi jangan tanyakan namaku dulu. Aku tidak yakin kita akan bertemu setelahnya. Aku ingin kita pulang ke penginapan yang arahnya berbeda. Lalu saat kau melangkah pergi, jangan menoleh. Aku lebih nyaman menatap punggung yang menjauh daripada tatapan mata yang berjanji untuk kembali tapi tak pernah terjadi. Aku ingin menatap punggung asing yang berjalan menyusuri trotoar padat Hanoi. Yang akan kulihat hanya punggungmu, lampu kuning jalan, dan hujan yang tiba-tiba menetes, lalu kau berlari, mengangkat dua telapak tangan itu di atas kepala. Lalu kau berteduh di depan toko barang vintage, mengusap-usap rambut hitam itu dengan kasar, lalu menoleh ke arahku. Dan bersamaan dengan itu, aku akan pergi setelah menyimpan aman handycam usang itu di dalam pouch plastik lalu menyimpannya di dalam tas di punggungku. Lalu aku akan berjalan menyusuri kota bersama sibuknya orang yang berlarian berlindung dari hujan. Tapi aku tidak akan berlari, aku akan menyambut setiap tetes hujan yang menghujam kulitku. Aku akan tetap berjalan sambil tersenyum lalu memutar adegan punggung yang menjauh berlari dibawah hujan yang terekam oleh lensa mataku berulang-ulang, lagi, dan lagi sebagaimana aku memutar An Encounter with Robbers asking About You [The 1975] saat ini.
Vietnam dan Menemukan Cinta 2
Masih
ingat aku bilang tidak yakin akan bertemu setelahnya? Tentu bohong jika aku
bilang tidak mau bertemu denganmu lagi. Di Vietnam, aku akan memulai hari
dengan Banh Mi isi telur, sosis dan sayur. Kemudian kembali menyusuri padatnya
kota Hanoi di pagi hari. Tujuanku adalah berkunjung ke Temple of Literature,
sebuah kuil Sastra di Hanoi yang sudah ada sejak tahun 1070. Aku memang tidak
terlalu suka sejarah, tapi culture selalu punya daya tariknya. Aku akan mengelilingi
setiap sudut dan ruas kuil itu, juga dengan kamera film dan handycam bergantian
di tanganku. Setelah itu aku akan mengunjungi kedai kopi yang kulihat dari
pinggir jalan. Aku juga bukan mahluk pecinta kopi. Bahkan jika disuruh memilih
antara kopi atau susu jahe, aku lebih suka susu jahe, ia membuatku hangat. Tapi
kopi sering membuatku cemas tanpa sebab, aku juga tidak suka bau urinku setelah
ngopi. Tapi untuk Vietnam, kopi akan ku coba. Kedai kopi ini tenang, sudah jam
11:30 tapi pengunjungnya tak ramai. Aku tidak tau kenapa, mungkin karna terlalu
banyak kedai kopi di Vietnam? Aku juga tidak ingin bertemu di kedai kopi ini,
disini tidak ada susu jahe. Untungnya disini ada Affogato, jadi aku pilih itu instead
of coffee. Setelah itu aku akan Kembali ke penginapan untuk istirahat, solat
dan tidur sebelum sore hari menuju ke tempat yang katanya hidden gem banget. Akhirnya
setelah sore hari tiba, aku berangkat mencari yang tersembunyi di Hanoi, kafe
kecil dengan banyak buku dan barang-barang vintage bersamanya. Menariknya di
Hanoi kafe-kafe yang seperti itu, jalan masuknya sangat sempit dan sangat
private, karena melewati gang-gang sempit rumah warga lokal. Tapi yaa Namanya juga
tersembunyi, tempatnya pun sepi. Pengunjungnya ramai, tapi mereka semua mahluk
yang tenang, tidak berisik dengan pertanyaan ina-inu. Tapi walaupun
tersembunyi, aku suka wujud tempat ini, tembok berwarna kuning yang sudah hampir
memudar dan jendela kayu yang usang tapi kokoh. Kalua diminta mendeskripsikan Vietnam
dengan warna, aku akan memilih menyuarakan kuning, hijau, merah, warna kayu
tua. Di kafe ini aku meminum kopi, bahkan aku memesan 2 jenis, moccachino dan
kopi tradisional Vietnam. Di salah satu sudut kafe, ada piano tua, aku ingin
mencobanya tapi takut mengganggu pengunjung lain. Di kafe ini aku tidak lama,
aku hanya butuh waktu 20 menit untuk mengahabiskan 2 kopi ku, 20 menit sisanya
aku habiskan untuk menghirup udara yang meluk wangi belasan mug kopi yang ada
di ruangan itu. Tempat selanjutnya yang aku kunjungi adalah took buku yang juga
katanya hidden gem. Saking hidden gem nya took buku ini, aku beberapa kali
bingung harus belok keg an sempit dan menaiki tangga beton yang mana, untungnya
ada warga lokal yang mau mengantarku. Setelah sampai aku mulai menyusuri setiap
sisi rak-rak yang berjejer mengelilingi sudut ruangan took buku itu. Buku apa
yang aku cari sampai ke Vietnam ini? Buku romantis yang ditulis oleh orang
Vietnam tapi berbahasa inggris, versi translate juga tidak apa. Kenapa harus yang
ditulis oleh orang Vietnam? Aku ingin tahu, apakah orang Vietnam juga
menganggap Vietnam sebagai tempat romantic dan cocok untuk menemukan belahan
jiwa seperti yang aku pikirkan.



Komentar
Posting Komentar