Sudah tiga tahun sejak terakhir kita bertemu disini
Tiga tahun tempat ini tidak pernah aku datangi. Padahal ini satu-satunya tempatku bebas mengatakan apapun tentangmu dan yang lain.
Tapi bukan berarti aku tidak mencari kabarmu. Beruntungnya aku memegang salah satu akun yang mengikutimu di Instagram. Mungkin tak banyak yang bisa kulihat disana. Seringnya aku tak menemukan satu update pun tentangmu. Tapi itu tak membuatku beranjak dari profilmu. Yang selalu kulihat berulang-ulang adalah sorotan yang kau pasang. Tentang lagu, langit, dan foto wisuda bersama kekasihmu.
Aneh sekali rasanya setiap melihat foto-foto itu dan membaca bagaimana kalian saling mengutarakan cinta. "Ah, andai saja itu aku", pikirku beberapa kali. Tapi aku juga selalu menanam bahagia untukmu.
Sejujurnya, tidak sesering itu aku mengingatmu. Tapi setiap itu datang, hanya kehampaan yang kurasakan. Maka untuk mengisinya kucari kabar tentangmu lagi.
Kapan terakhir melihatmu? Februari lalu, setelah mengantar pulang sosok yang sama-sama pernah mengisi cerita kita.
Minggu lalu, aku membuka buku itu lagi. Buku tulis dengan cover silver bersajarah itu. Aku baca ulang, lalu hatiku menghangat.
Mengingat betapa kesepiannya aku belakangan ini, kembali pada kenangan itu sangat membantu. Membantuku mengingat bahwa dulu saat aku merasa tidak terlihat, kamu datang dan membuatku jadi sosok yang diperhitungkan. Terima kasih untuk memori itu.
Lalu bagaimana denganmu?
Pernahkah memori itu datang barang beberapa menit disela-sela nafasmu?
Tidak pernah?
Tak apa. Tidak penting juga mengingat hal yang sia-sia begitu.
Biar aku saja yang bawa semuanya. Bersama tulisan-tulisanku, di tempat ini. Sedikit berat di dada, tapi hanya itu kan yang kita punya?
Entah tempat ini kau temukan atau tidak, aku tidak ada rencana untuk berhenti datang.
Mari bertemu di kenangan yang lain.
Mita

Komentar
Posting Komentar